Cerita Horor Sosok Tak Kasat Mata Memanggilku Sebanyak 3 Kali
Hallo, perkenalkan namaku adalah Kezia purwati. Ini adalah pengalaman seram didatangi oleh Sosok Tak Kasat Mata yang tidak akan bisa terlupakan dan untuk pertama kalinya membuatku tidak ingin membuka mata lagi. Aku yang ingat sekali, dua tahun lalu pada saat waktu pagi hingga sore tersebut langit sedang hujan deras menyelimuti rumah. Hujan tersebut sangat deras sekali, hingga aku yang tidak bisa melakukan aktivitas di luar rumah.
Aku pun saat itu mati gaya di rumah dan memutuskan untuk merawat wajahku dengan memakai skincare masker kecantikan. Sembari yang menunggu maskerku kering, diriku juga sambil menikmati lantunan musik yang syahdu di iPod.
Aku pun yang bersuara bernyanyi sangat kencang sampai-sampai yang tidak mengindahkan ada suara azan Magrib. Jika yang mengingat kejadian
pada saat itu, rasanya aku yang sangat menyesal. Karena, setelah yang azan berhenti, aku yang mulai merasakan ada sesuatu yang sangat berbeda sekali.
Bulu kudukku dari ujung kaki hingga kepala yang langsung berdiri tanpa sadar. Aku mulai terlihat gelisah, grasak-grusuk, dan mencoba untuk bisa tenang.
Hingga pada akhirnya, aku ingat kalau masker yang sedang dipasang di wajah ini harus yang segera untuk dibilas. Tanpa merasa ragu, aku pun membuka mata.
Betapa terkejudnya aku yang melihat kamar nyaman ini telah penuh dengan kumpulan orang-orang.
Orang-orang yang tidak dikenal tersebut, mereka semua merupakan Sosok Tak Kasat Mata.
Aku yang ketakutan setengah mati, semua yang seakan sedang menatapku dengan mata yang misterius. Saat itu aku yang tiba-tiba gagap tidak bisa untuk bicara dan tubuhku seakan kaku seperti mayat yang tidak bisa digerakkan. Jujur, saat itu aku hanya bisa melihat dan menyaksikan sekumpulan orang yang sedang memandang sinis.
Aku sangat ingat sekali sampai saat ini wajah-wajah pucat yang kira-kira berjumlah ada sebanyak sepuluh orang. Tidak henti-henti air mata ketakutan yang menyelimutiku selama beberapa menit.
Yang tidak habis pikir dan membuat aku tidak kuasa untuk menahan takut karena yang tidak bisa teriak sama sekali. Bahkan, mereka yang memanggilku dengan bisikan beberapa kali. "Kezia? Kezia? Kezia?," panggil makhluk-makhluk itu. Jantungku semakin tidak terkendali, berdebar sangat hebat dan gemetaran.
Tangisanku sudah tidak bisa terbendung lagi ketika seluruh yang dilihat itu sedang menertawakanku dengan sangat keras. Salah satu dari mereka bahkan ada yang tertawa di telinga bagian kiriku. Suara itu begitu sangat jelas dan tegas. Hingga pada akhirnya, mereka semua yang menghilang seakan puas menertawakan aku yang berdiri ketakutan.
Setelah Sosok Tak Kasat Mata tersebut hilang, aku yang langsung lari terbirit-birit dengan masker di wajah yang sudah berkerak tanpa dibilas. Sambil menangis, aku pun berlari ke rumah tetangga. Aku mencari perlindungan sampai kedua orang tua pulang.

