Cerita Mistis Tangisan Hantu Perempuan

Tangisan Hantu Perempuan Minta Tolong Di Puncak Bogor

Cerita horor mengenai Tangisan Hantu Perempuan ini terjadi pada saat aku berkemah di salah satu tempat di Puncak, Bogor, Jawa Barat. 

Tempat camping tersebut tidak terlalu ramai. Sebelum lebih jauh, perkenalkan, namaku adalah Thomas Susanto. Aku pergi berkemah bersama dengan temanku. Ketiga temanku itu ialah Adit, Enzil, dan Makri. Kami berangkat menuju ke lokasi pada pukul 08.00 WIB.

Kami melewati jalur Bukit Pelangi. Perasaan bahagia terasa sekali sepanjang perjalanan. Kami sampai di lokasi sekitar pada pukul 11.00 WIB. 

Setelah yang membeli tiket masuk, kami pun langsung mencari tempat terbaik untuk bisa berkemah.

Setelah beberapa saat mencari tempat, akhirnya kami menemukan spot untuk berkemah di pinggir sungai. Suara gemercik air sangatlah menenangkan. 

Enzil dan Makri bertugas untuk mendirikan tenda. Sementara aku dan Adit membuat kopi dan susu hangat. Sore harinya, kami berdiskusi tentang banyak hal. Sangat menarik dan bahagia.

Semua terasa sangatlah menenangkan pikiran. Sudah lama aku tidak merasakan hal seperti ini. Tidak terasa malam pun tiba. Sekitar pukul 21.00 WIB, Makri mendengar suara Tangisan Hantu Perempuan di samping tenda kami. Aku pun keluar untuk bisa memastikan. Namun, aku tak melihat ada siapa pun di luar.

Di samping tenda hanya ada beberapaa pohon besar saja. Tidak ada tenda orang lain juga di samping kami. "Nggak ada siapa-siapa," kataku ke teman-teman. Makri menunjukkan raut muka yang panik. Aku pun juga ikut merasakan khawatir. Setelah itu, kami pun memutuskan untuk istirahat saja. 

Namun, suara tangisan Perempuan itu terus terdengar.

"Tolong, tolong, aku," bunyi suara perempuan itu sembari menangis.

Aku pun terbangun, tetapi aku tidak berani ke luar. Perasaan takut mulai menyelimutiku. Adit tidur dengan sangat lelap. Enzil dan Makri yang tidur di tenda sebelah sepertinya juga mendengar suara tangisan itu. "Mas, aman?" teriak Makri.

"Aman, Mak," jawabku. Suara tangisan itu makin keras. Enzil langsung mengajak untuk membaca doa. Ada banyak doa yang aku baca. Perlahan, suara Tangisan Hantu Perempuan itu mengecil dan hilang. "Istirahat, Mas," kata Makri. Kami pun tidur dengan rasa tenang. Pagi harinya, kami melihat ada beberapa bunga di sekitar tenda kami.